21.16
Posted In
Lina Kelana
,
Puisi
Edit This
geletar itu menjadi redam. bulan yang jatuh di kasurnya, menolak tumbuh di halaman. telah dibaginya surat dari sungai hingga terakhir sesapan. mata-mata yang dilajunya sepekan lalu, kini lunglai lututnya. tersungkur dengan dengkur yang mengubur setengah tubuhnya jadi lebih lebam dan biru. sungai telah berpindah ke tubuhnya.
bulan yang jatuh di kasurnya itu, Luruh sebelum amanatku sempat.
2010 - 2011
21.14
Posted In
Lina Kelana
,
Puisi
Edit This
kota ini hantu, Bingo.
kusaksikan tubuh ibuku tanggal dari kalender.
kulitnya hitam, launnya luruh dari rahim napasku.
“setengah jiwamu dicuri sunyi, anakku.
temui sejarah. di sana sebagian jiwamu tinggal.
namun perjalanan, bukan kisah yang menyenangkan
di pagi hari,” kata ibuku sebelum hilang hening
kota ini hantu, bingo.
kusaksikan tubuh ibuku tanggal dari kalender.
kulitnya hitam, daunnya luruh dari rahim napasku.
2010-2011
21.10
Posted In
Lina Kelana
,
Puisi
Edit This
pernah aku mencuri cahaya dari kerling matamu. ia berteriak, tentang detaknya yang hilang sebelum mekar pagi. lalu kuletak bolamataku untuk menggantikannya. lagi-lagi ia berteriak, tentang kilau yang tak habis membakar denyut yang hampir tumbuh. ia bercerita pada mata yang kosong. dunia yang tak genap, kisah pertemuan dengan masa lalu yang retak. lagi-lagi ia berteriak.
ia adalah pecahan dari masa yang tak ingin dikenang lagi.
ia adalah serpihan yang menyimpan racun pada tiap pecahan. ia lagi-lagi berteriak,
: “jangan ambil hidupku, jangan ambil hidupku!”
ia pantas berteriak,
dan sekali lagi.
2011
16.53
Posted In
Puisi
Edit This
malam hujan. orang-orang pulang membawa kenangan. pada baris paling depan, mereka garami juga yang lalu.
“ia bagian yang terlupakan, saat kami sedang mengingatnya,” bisik mereka pada sepi.
Surabaya, 2011
16.36
Posted In
Puisi
Edit This
Bulan ini, berkali ia terjatuh
Ada yang tak seimbang dalam dirinya
Perih yang dirasanya, kian nyeri akibat
Hujan di batinnya menuai musim
Juni manja
Lalu merengek, lagunya menuntun
Jarum jam dinding pelan
Menusuk, dan menyobek dadanya yang sebagian telah retak
Ia menggantungnya sekali lagi, pada sepi
Kemudian, ditelantarkannya purnama
Pada yang telah meniadakan namanya
“Beri kami kesempatan membunuh kematian sendiri. Kehidupan tak cukup baik dari kematian. Beri kami (tempat) melihat dengan cermat, bagaimana kami pelan-pelan menjadi tiada” katanya meninggalkan malam
Ingin kunikmati luruhku, dalam bulan yang selalu manja
Surabaya, 2011