16.48
Posted In
Review novel
Edit This
KESEDERHANAAN SPT YANG MENYIMPAN LUKA SEKALIGUS BAHAGIA
Judul Buku : Sengkarut Meja Makan
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Penerbit : Selasar Pena Talenta – Jakarta Timur
Cetakan : I, Maret 2011
Harga : Rp. 44.000, 00
ISBN : 978-602-97300-1-2
Apa yang kita tangkap dari suatu kesederhanaan bukan hal yang sekedar “cukup” untuk dimaknai dengan sederhana terhadap sesuatu yang lumrah/lazim. Tetapi ternyata lebih dari sekedar batasan biasa dan tak biasa. Dari sinilah kita (bisa) “ter”mahfumi untuk memaknai sebuah kesederhanaan dengan sempurna.
Dalam “cerita” klise kepenulisan_sastra; gaya bahasa, metafora, diksi, dansebagainya mungkin menjadi hal yang patut mendapat “perhatian” yang lebih cermat dan seksama dalam penyampaian sebuah karya. Perkara nanti di”lontar”kan dalam “logat” yang “santun” maupun sebaliknya, “kasar”, itu menjadi hal yang dipertimbangkan selanjutnya. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah “sampai tidak”nya pesan-pesan yang hendak dibagi kepada oranglain_pembaca. Bagaimana pembaca mampu masuk ataupun dimasuki atas ruh sebuah karya. Diksi dan pelbaagai “hiasan” bahasa kemudian menjadi luruh manakala yang kita pahami hanya serentetan kata yang membentuk kalimat-kalimat menjadi paragraph-paragraf tanpa makna. Kalau bisa dipermisalkan, hal ini semacam banyak harta, tetapi banyak hutang. (He..he..he)
Lepas dari bagaimana teori menilai atau mengklasifikasikan suatu karya ke dalam satu golongan tertentu, tak perlu kiranya hal tersebut diperdebatkan. Bagaimana pembaca “menuduh” penulis masuk atau menganut/mendukung manisterm tertentu atau tidak, karya akan menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan, beberapa penulis kemudian_tanpa disadari_ “belajar” lebih arif memaknai hidupnya justru dari karya yang dibuatnya sendiri. Hal ini tentunya membawa pengaruh positif bagi kebaikan, termasuk pada pembacanya.
Jika Kahlil Gibran menyampaikan karyanya dalam bentuk sebuah narasi surat puisi, Imam Budi santosa yang mematahkan “penilaian” masyarakat dengan “gugatan”nya terhadap mitos Jawa, Pringadi Abdi Surya dengan “ketakwarasan”nya, dan Bamby Cahyadi dengan “kelembutan”nya, maka Saut Poltak Tambunan memiliki keunikan dengan “kesederhanaan”nya yang meng”kamera” ironisme kehidupan dengan renyah. Di mana di dalamnya terangkum manis, asam, asin, pahit, dan getirnya “nasib” manusia dalam kisah laku hidup yang beragam. Kejadian-kejadian yang kerap kita abaikan dari “penglihatan” (entah sengaja atau tidak). Dan ini dipoles sedemikian hingga ada kenikmatan tersendiri di dalamnya. SPT berhasil mengunggah kesempurnaan dari kesederhanaan yang dimilikinya.
“ Setiap hari deru mesin traktor menggaruk-garuk keperkasaannya di tanah sekeliling. Puluhan traktor dan ratusa truk pengangkut tanah menyulap seketika dan meratakan tanah berbukit-bukit….” ( hal 38)
“ Menurut Kiman, dokumen-dokumen temuannya itu membuat anak-anaknya makan bagai berpesta. Bu Kiman mengolah kertas sertifikat jadi bubur. Naskah kontrak bisnis dibuat bakso. Nota-nota rahasia dirajang jadi pecel. Menurut Kirman, nota pinjaman luar negri lebih nikmat dari dokumen-dokumen lainnya” (hal 76).
SPT dengan detil dan cekatan membuka luka-luka dengan birahi yang manis. Sesekali dentuman dan ledakan dicetuskan di beberapa bagian kisah. Pembaca seperti diajak untuk “bertengkar” atau “menciptakan pertengkaran” dengan diri sendiri. Sebuah kontradiksi yang berdiri di atas impian, harapan, keinginan, kesadaran, kekecewaan, juga penderitaan. Yang kesemuanya adalah segmen-segmen yang ada dalam luka-luka yang entah bisa sembuh ataukah tidak. Hal yang paling dekat dilakukan untuk memaknai hakekat hidup dan “eksistensi” diri dan ke”diri”an dalam kehidupan.
Maret 2011
21.17
Posted In
Lina Kelana
,
Review novel
Edit This
Judul : Tangan untuk Utik
Penulis : Bamby Cahyadi
Tebal : 133 halaman
Edisi : cetakan I, vii + 133 halaman, 140 mm x 210 mm
Oktober 2009
Penerbit : Koekoesan
Tak ada yang bisa saya ucapkan untuk mewakili karya dalam buku ini. Kumpulan cerpen karya sahabat Bamby Cahyadi kalau boleh saya mengatakan adalah karya yang cerdas, apik. Terlepas dari sang penulis adalah sahabat baik saya atau tidak, saya mengacungi jempol atas cerpen cerpen yang dijilid dalam satu buku berjudul Tangan Untuk Upik ini.
Pertama kali buku ini saya dapat, cerpen yang saya lahap adalah Tangan Untuk Utik. Sesuai dengan judul buku saya penasaran dengan bagaimana ceritanya. Jika Bang Hudan Hidayat atau sahabat Khrisna Pabichara dalam epilognya memandang dan menganalisa buku ini dengan ilmu ilmu mereka. Tentu saya tak bisa menjangkaunya dengan segala keterbatasan saya. Saya menikmatinya hanya sebagai pembaca awam.
Sebua ketulusan dituangkan dalamTangan Untuk Utik. Keinginan memberi sesuatu yang berharga pada diri kita kepada oranglain. Seorang bocah yang hendak memberikan tangannya untuk sahabatnya yang cacat. Solidaritas antar bocah yang tak tercampuri nafsu, atau tendensi lain demi keuntungan pribadi. Sudahkah kita bersikap seperti bocah bocah itu? sepertinya kita harus menilik kembali bahwa kita selalu menarik ulur setiap bantuan yang hendak kita berikan kepada yang lain.
Sebuah misteri juga disuguhkan begitu apik oleh Bang Bamby. Seorang Karyawan Tua sengaja mengakhiri hidupnya karena masa pensiun telah menjemputnya. Ia sangat mencintai pekerjaannya. Mungkin ketakrelaan pensiun yang mau tak mau harus diterimanya lantaran usia yang sudah tua menjadikan si Pak Tua mengundurkan diri dari hidupnya ataukah karena khawatir hari harinya dipeluk rasa sepi yang mencekat oleh sebab tak ada kesibukan lagi setelah tak bekerja. Pak Tua putus asa. Ia dan keluarga imajinasinya sangat bergantung pada pekerjaannya. Maka bunuh diri adalah jalan yang ditempuh pak Tua untuk melepaskan diri dari masalah yang membelitnya.
Tuhan, Jangan Rusak Televisi Ibuku adalah ide sederhana yang dikemas sangat menawan. Keinginan untuk membahagiakan sang ibu. Keinginan sederhana, namun sulit dalam dilaksanakan. Kekeukeuhan sang ibu agar televisi jadul peninggalan ayah tetap dipelihara meski berkali kali rusak dan masuk ke rumah servis menguatkan ketakmengertian anak anaknya, dari sinilah muncul konflik yang unik. Kesalahpahaman menjadi menu menarik dalam hubungan ibu_anak. Kejadian yang sering terjadi dalam kehidupan sehari hari.
Lunturnya rasa Nasionalisme sebagai Warga Negeri bisa kita temu dalam Bendera itu Tak Lagi Berkibar di Sini. Saya tergelitik takjub melihat Topo yang kebingungan mencari bendera bendera yang biasa bertengger di tiang tiang di depan tiap rumah. “hari ini adalah hari penting, hari kemerdekaan, kenapa tak seorangpun memasang bendera?”. Hal sederhana yang sering kita lakukan bukan? Ironis sekali, sedang kita tahu kita sering meneriakkan dan mengibarkan bendera bendera_dengan banyak warna_ entah bendera apa yang kita junjung dan sanjung sanjungkan demi untuk mengibarkan nama kita, tetapi mengapa untuk sebuah nama besar Negara kita keberatan melakukannya? Apa karena pemerintahan yang kurang keras berkoar meneriakkan kemerdekaaan yang pingsan ini? Atau kurang adilkah pembagian “upeti”pemerintah kepada rakyatnya? Ataukan memang rakyat telah bosan menjadi bangsa dari negeri ini? Ah saya tak tahu.
Tak kalah yang membuat saya terpesona adalah ketika saya jatuh dalam Rancana Bunuh Diri. Cara praktis yang bisa dilakukan untuk mengakhiri hidup. Tetapi yang unik di sini adalah, si calon pelaku sangat memperhitungkan untung ruginya melakukan bunuh diri, tepatnya pada saat proses bunuh diri. Dia tak mau terlalu mahal, lama, merepotkan, juga sakit. Tetapi bagaimana bisa? Yang kena jarum saja sakit, apalagi menggorok urat nadi, atau meloncat dari gedung, atau tercekik racun tikus, sepertinya semua terasa sakit, hehehe. Pernah saya membuat sket cerpen begini, persis(maaf bang Bam, kebetulan kita punya ide yang sama, hehehe). Namun terabaikan karena fokus ke yang lain. Jujur satu cerpen ini membuat saya sangat suka, pergolakan datang silih bergsanti mulai dari awal cerita. Tetapi saya kurang greget dengan kematian sang calon pelaku bunuh diri ini, sebab kematiannya sangat sederhana dan santun. Berbanding terbalik dengan repotnya dia menimbangtakar sisi enak tidaknya proses menjemput mati dengan bunuh diri.
Percakapan dengan Bayi memang sedikit “meng_ada” jika kita lihat sekilas. Atau bahkan kita cermatipun mungkin ini kejadian yang muskil dilakukan semua orang dewasa kepada setiap bayi. Bukan meng_ada pula jika saya katakan kejadian ini benar adanya. Secara nyata maupun simbolis. Saya berani mengatakan ini nyata sebab saya pernah mengalaminya. Waktu itu saya sedang diminta menunggui keponakan yang baru berumur kurang dari satu bulan. Awalnya saya cuek pada bayi yang tengah berbaring, tetapi tidak tidur. Dia menatapku. Aku perhatikan sorot mata itu. Sorot mata seorang bayi yang tak mampu berbicara atau mengatakan apapun. Tetapi kemudian saya terkejut, sang bayi tengah mengungkapkan sesuatu kepada saya. Awalnya batinku menolak dan mengingkari kejadian itu adalah perasaanku saja, tetapi setelah saya berdamai dengan diri sendiri saya menemukan apa yang dia katakan. Dia berbicara tentang mengapa dia ada, tentang apa yang diembannya dan apa yang diinginkan Tuhan kepadanya. Kami berbincang lewat mata dan bahasa hati. Saya yakin diapun tak menyadari dia telah mengatakan itu kepada saya. Tetapi saya yakin, kesucian hatinya telah membawa kekuatan sang Maha untuk menyampaikan sesuatu agar kita “membaca”. Waktu yang kami habiskan memang tidak banyak. Tak sampai lima menit. Tetapi kami telah berbincang banyak hal. Believe or not, terserah anda. Percakapan dengan bayi mengajak kita untuk “bertindak” seperti dia, berucap dan bersikap tanpa kebohongan, kepura-puraan, dan sebagainya. Semakin dewasa seseorang, kemungkinan melakukan (kesalahan)itu semakin besar. Sehingga tak heran jika bayi yang ditemui Kinar tak menginginkan tumbuh menjadi dewasa. Karena manusia dewasa itu kejam!
Kisah lain yang terjadi di masyarakat diungkap Bang Bamby dalam Koran Minggu . fenomena yang banyak kita temu dalam masyarakat kelas rata rata menengah bawah khususnya. Dimana himpitan ekonomi menjadi masalah yang riskan dalam kehidupan rumahtangga, pun kepribadian. Emosi yang labil menunjang pertengkaran dan pergolakan batin. Keinginan suami untuk membahagiakan istri dan keluarga terpaksa harus dibayar mahal oleh laki laki yang telah diPHK dari tempatnya bekerja. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang penulis surat kabar. Beberapa adegan yang menyuguhkan konflik diramu dengan indah oleh bang Bamby, sebagai pembaca awam, saya sempat bergulat di cerita ini.
Tema sederhana (yang sering kita abaikan) diusung Bang bamby, dengan gaya tutur yang komunikatif dan cerdas memberikan banyak ruang untuk lebih luas memahami setiap pesan yang disampaikan dalam kumpulan cerpen ini. Tameng Untuk Ayah, Mimpi dalam setoples kaca dansebagainya syarat dengan hikmah. Terimakasih Bang Bamby telah memberikan pencerahan bagi masyarakat lewat tangan lentiknya yang terangkum dalam buku bermanfaat ini.
Mari bermimpi bersama. Membangunnya di atas geladak ketulusan, agar terberi untuk kebaikan sesama. Mungkin itu simpulan pesan yang disuguhkan Bang Bamby dalam bukunya tersebut.
06.39
Posted In
Lina Kelana
,
Review novel
Edit This
Judul : FROM BATAVIA WITH LOVE Seratus tahun Cinta Menanti
Penulis : Karla M. Nashar
Tebal : 297 halaman
Edisi : cetakan I, vi + 298 hal, 13 x 19 cm
ISBN : 979-780-178-0
Penerbit : GagasMedia, Jakarta
Tara Medira, seorang gadis ceria yang bekerja part time di sebuah biro jasa milik pak Edy adalah seorang tak beayah ibu. Tara menemukan dirinya tumbuh di sebuah panti asuhan. Susah payah dia mencari pekerjaan untuk mempertahankan hidupnya yang hanya sebatangkara tanpa sanak keluarga. Pekerjaannya sebagaii sekretaris part time mengantarnya bertemu dengan Mr dan Mrs Groonevelt. Pak Eddy mempercayakan tugas Joko kepadanya. Jadilah Tara sebagai guide bagi pasangan wisatawan tersebut (Mr dan Mrs Groonevelt). Tugasnya menemani Maddy dan Rob mengunjungi beberpa tempat bersejarah di Jakarta.
Tepat memasuki museum, Tara merasakan menemu cuilan cuilan kejadian dan orang orang di masa lalu. Maddy curiga dengan sikap ganjil Tara, tetapi Tara mengganggap apa yang dilihatnya hanyalah sebuah halusinasi yang entah. Kejadian demi kejadian aneh selalu menyapa Tara dalam hari harinya. Siang dan malam hinggap di mata dan benak Tara. Keanehan ini membuat Tara merasa gila, dan semakin gila. Apalagi seorang pemilik toko kain mengatakan Tara diikuti oleh arwah penasaran. Bergidik Tara menyikapi kejadian kejadian di luar nalarnya. Hingga suatu hari sosok PieterVan Reissen hadir dan menjadi teman sepinya setiap hari. Tara merasakan dia menemukan yang selama ini dicarinya. Kasih sayang dan perhatian yang tidak didapatinya sejak kecil. Mungkin juga cinta seseorang yang dpaat dijadikannya tempat bersandar saat penat dan lelah menimpanya. Ya, cinta dari kekasih. Mungkin juga tidak.
Kebersamaan dengan Pieter mengantar tara semakin dekat untuk menguak misteri kehidupan Pieter bersama orang orang sekitarnya. Tentang energi yang menanti. Menanti wakil yang bisa memenuhi janji yang belum ditepatinya di masa lampau. Sebuah kesedihan yang belum terbayar. Cintanya yang direnggut paksa dari orang orang sekitar dan keluarganya membuat Pieter merana selama seratus tahun untuk mengikatkan senyum yang dicabutnya sengaja dari bibir Yasmin. Kekasih hatinya yang seorang pribumi.
Pieter memilih Tara untuk mengatupkan kisah cintanya pada Yasmin. Pieter dan Yasmin harus menunggu seratus tahun hingga menemukan generasi mereka untuk melunasi hutang cerita cinta mereka yang kandas di tengah jalan. Tara dan erick adalah pasangan terpilih yang mampu membayar tunai harapan mereka yang sempat tercerabut dari asa.
Bagaimanaka Pieter menjelaskan hutang janji dan kisah hidupnya kepada Tara? Apakah Tara sanggup membantu Pieter memenuhi takdir reinkarnasinya ini? Ikuti kisah lengkapnya dalam FROM BATAVIA WITH LOVE Seratus tahun Cinta Menanti. Sebuah novel yang ditulis Karla dengan sangat cerdas dan penuh petualangan imaji. Sarat sejarah dan hikmah
06.37
Posted In
Lina Kelana
,
Review novel
Edit This
Judul : Razonca Rumah Merah Kita
Penulis : irwan Bajang
Tebal : 188 halaman
Edisi : cetakan I x + 192 hal, 13 x 20,5 cm
Agustus 2008
Penerbit : Copernican _ Kelompok Jagad Media
Karya shobat Irwan bajang layak kita nikmati. Novel yang mengisahkan tentang konflik yang terjadi dalam suatu negara Sailon. Sailon yang terdiri atas pulau Jagze, Balehoem, dan Koblem sebagai sentral pemerintahan Sailon. Konflik kekuasaan dan sentralisasi pemerintahan menjadi latar yang diangkat shobat Irwan. Konflik yang mungkin pula terjadi pada setiap negara. Termasuk Negara kita Indonesia, atau negara tetangga. Intrik terjadi karena para politikus saling bersaing kedudukan. Dengan politik “adu domba” dan ber”mulut manis” untuk kepentingan rakyat, mereka melancarkan aksinya demi tercapainya tujuan. Masyarakat Pulau Jagze dan Balehoem menuding pemerintah Koblem beserta masyarakatnya sengaja “memeras” sumber daya alam dan “memanfaatkan” ketertinggalan kedua pulau tersebut demi keuntungan para pejabat pemerintahan.
Tak terlupa, cerita cinta menjadi bumbu pelengkap dari novel ini. Cinta tak berakhir bahagia antara Ariaseni dan Zonca ( Razonca Dirzamsa) yang tumbuh dari kebersamaan mereka di Rumah Merah. Sebuah organisasai yang didirikan bersama dengan Verzaya. Pemuda bangsa Sailon ini berjuang keras mencari dan menggembleng anggotanya menjadi “prajurit” yang tangguh membela kebenaran. Dengan semangat kuat mereka menolak “kebijakan” yang dibuat pemerintahan Koblem. Mereka beserta anggota dengan keras menentang disintegrasi pemerintahan Sailon. Perjuangan untuk mengembalikan fungsi pemerintahan tidaklah mudah. Banyak kecaman dan perlawanan yang mereka dapatkan. sebagai pemuda yang juga mahasiswa sebuah universitas Negeri Sailon (UNS) mereka adalah pahlawan perjuangan yang pantang menyerah menghadapi rintangan.
Klimak yang terjadi adalah ketika keadaan negara semakin terpuruk. Terjadi baku hantam di sana sini. Maski dengan berat hati Razonca dan Veryaza diharuskan pulang oleh orangtuanya masing masing. Razonca pulang ke pulau Jagze dan Veryaza ke Pulau Balehoem, tempat meraka dilahirkan. Sedang Aria tetap tinggal di Koblem yang merupakan tempat tinggalnya sejak dilahirkan. Hubungan ketiga sahabat ini tetap terjalin melalui sebuah radio yang difasilitasi oleh Aria. Cinta Zonca dan Aria terhubung lewat komunikasi udara. Sampai suatu ketika Verzaya mengetahui latar belakang Aria. Aria yang selalu tertutuo untuk menceritakan latar belakang dan jatidiri keluarganya akhirnya terbongkar oleh sebuah pemberitaan surat kabar Nasianal Sailon langganan Veryaza. Kabar ini kemudian disampaikan kepada Zonca. Hingga terjadilah perpecahana persahabatn dan cinta antara ketigannya. Zonca, yang pada mulanya berjuang keras menolak pemberontakan yang dilaukan rakyat Jagze pimpinan Andarusa pada akhirnya didukung sepenuh hati oleh Zonca. Taktik dan stategi yang dilakukan Zonca membuatnya diangkat sebagai pimpinan pemberontakan. Zonca melalui seranganya berhasil menaklukkan beberapa wilayah penting dari pemerintahan Sailon. Keinginannya untuk mengambil alih pusat pemerintahan Koblem, serta memindahkan sentral pemerintahan Sailon ke Jagze menjadi sumbu utama perjuangannya. Sedang Veryaza beserta kelompoknya menuntut otonomi penuh, alias memisahkan diri dari Koblem maupun Jagze. Balehoem ingin merdeka dari negara Sailon. Pembayaran pajak dansebagainya yang berhubungan dengan pemerintahan Sailon dihentikan secara keseluruhan.
Gaya tutur dan penyampaian shobat Irwan dalam novel ini sederhana dan sangat komunikatif. Saya yakin semua kalangan bisa menikmati. Diawali dari kisah kehidupan Zonca di Kagze beserta keluarganya, secara runut Irwan mulai mengupas masing masing tokoh dan lingkup hidupnya dengan detil. Saya toidak tahu pasti apa yang menginspirasi shobat Irwan dalam pembuatan novel ini, tetapi saya yakin ide yang dituang sangat bagus.
19.45
Posted In
Lina Kelana
,
Review novel
Edit This
Lina Kelana
Judul : Alphawife
Penulis : Ollie
Tebal : 193 halaman
Edisi : cetakan I, x + 194 hal, 13 x 19 cm
ISBN : 979-780-381-0
Penerbit : GagasMedia, Jakarta.
Dari pertama saya membaca judul novel ini, terbayang bagaimana kira kira isi yang dibahas di dalamnya. Tentang kehidupan keluarga dan segala pelik masalahnya. Yang menarik menurut saya adalah kata “alpha”nya ini. Alpha sebagai yang pertama dalam barisan beberapa abjad dari “a” sampai “Z”. “alpha” yang kedua saya berpikir tentang sebuah kesalahan yang tak disengaja/khilaf. “mungkin” juga ada unsur kesengajaan “berbuat”. Sedang “wife” adalah istri.. Entahlah, saya belum ada gambaran lebih jauh sebelum membuka halaman pertama dari novel ini.
Pada bab pertama shabat Ollie sudah menyuguhkan sebuah permasalahan yang menjadi akar perpecahan Eric dan Lena. Tak seperti kebanyakan. Umumnya jika pada bab awal sudah disinggung konfliknnya, maka bab bab berikutnya menjadi sangat menjenuhkan. Tetapi ini tak berlaku dalam karya Ollie yang sarat makna tersebut. Ollie cakap menggantung pertanyaan pada paragrap akhir setiap babnya. Jujur saya membaca novel ini hanya empat jam tanpa istirahat. Selalu ada keingintahuan untuk membaca dan membaca bab bab berikutnya. Entah mungkin karena beberapa hal yang dibahas di dalam novel ini sangat akrab dengan keseharian saya atau bagaimana, saya benar benar merasa satu dari ribuan wanita yang ditelanjangi di sana, bahkan dua hari setelahnya pun saya masih “tegang dan terbawa” oleh isinya.
Eric yang menikahi Lena, Malena Katrine Wibowo, seorang editor “handal” in Chief majalah Stylish Woman_ Glam Lady, adalah seorang guru sekolah swasta di kotanya. Gaya hidup yang glamour dari istrinya membuatnya jengah. Kehidupan Lena lebih terutama untuk mempertahan prestise sebagai public figur perusahaan dan rekan kerjanya. Menjaga penampilan dan performen adalah “kewajiban mutlak” yang harus dimiliki Lena, pun juga dirinya seharusnya_menurut Lena. Beberapa sahabat dan kolega Lena menyayangkan mengapa Lena menikah dengan Eric yang notabene hanya seorang tenaga pengajar di sekolah swasta. Gaji Eric yang hanya seorang guru TIK (Tehnologi informatika) tak cukup digunakan bahkan untuk membeli sepatu Lena yang mahal dan bermerk terkenal itu. segala pembiayaan kebutuhan rumahtangga mulai dari listrik, gaji pembantu, sampai pada beban internet semuanya dicukupi oleh Lena. Meski demikian, Eric tak pernah memanfaatkan keadaan yang ada. Gaji yang dimilikinya dia gunakan untuk kebutuhannya sendiri, copy modul materi mengajar, biaya bensin dan kebutuhan sepeda motor butut miliknya.
Kehidupan rumah tangga mereka cukup tenang sampai, masalah gaya hidup dan prestise diperbincangkan, dan harga diri menjadi santapan publik. Lena selalu dihadapkan pada peristiwa/hal yang menyudutkan dirinya dalam hubungannya dengan Eric, suaminya. Lena menghendaki Eric mau dan bisa mengikuti gaya hidupnya, minimal pada acara acara yang membutuhkan kehadiran mereka berdua sebagai pasangan. Eric tak menyukai acara/pesta yang biasa dilakukan oleh istri dan kawan kwannya. Baginya, kehidupan Lena terlalu berlebihan. Hal ini menjadi masalah besar bagi Lena ketika dia harus mengenalkan suaminya kepada koleganya, sedang Eric tetap keukeh dengan sikap acuhnya pada style mewah yang tercipta dalam pesta tersebut. penampilannya yang sangat bersahaja menurut Lena sangat tak layak mendampinginya yang seorang ternama di Glam Lady yang telah dikenal oleh banyak perusahan Fashion & Style di dalam dan luar negeri.
Sampai saat Lena tak bisa lagi menerima “keberadaan” Eric yang seperti itu. Dia merasa Eric tak pernah berusaha mengerti dia dan keadaannya. Eric menolak usulan Lena agar Eric meninggalkan pekerjaan mengajarnya dan memintanya untuk mencoba bekerja di kantor/ perusahaan. Lena yakin keahlian dan ketrampilan Eric sangat menjamin untuk kedudukan yang bagus di pekerjaannya nanti. Eric menolak dengan alasan mengajar adalah jiwanya, kehidupannya. Pertengkaran timbul. Eric merasa Kedudukannya sebagai suami seolah hanya sebuah penyebutan saja. Lena yang keras kepala dan egois hanya sibuk dengan kesehariannya, pergi pagi pulang malam membuatnya tak dihargai sebagai suami. Hingga akhirnya Eric memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka. Suami istri inipun hidup terpisah. Dalam kesendirian mereka inilah, masing masing mengalami kejadian yang membawa hikmah. Keduanya saling belajar dari apa yang mereka temu. Susah payah mereka melunakkan ego masing masing dan menimbang kembali arti pentingnya perbedaan dalam kehidupan. Apakah keduanya akan kembali berkumpul untuk membangun kembali dinding rumahtangga mereka yang sempat retak? Atau mereka tetap memilih berpisah dengan gaya hidup yang sedikit lunak karena beberapa kejadian menggembleng jiwa mereka?
Sebuah potret kehidupan yang sederhana namun pelik. Saya yakin fenomena alpha wife ini banyak terjadi dalam masyarakat kita kini. Saya mengabaikan setting yang diangkat dalam novel ini, karena menurut saya, selain di perkotaan, di pedesaanpun bisa teajdi hal yang sama. Saya kembali bercemin pada diri saya sendiri, bagaimana saya dan beberapa wanita lainnya, dimana kesibukan hampir menenggelamkan waktu, bisakah membagi waktu dengan baik untuk keluarga?. Berangkat kerja jam 07.00 – 13.30. sore mengerjakan job sampingan di rumah, malam nulis. Hemmm.... sepertinya jatah tidur malampun terkurangi untuk sekedar nonton tv atau FBan. “asumsi” bahwa _saya(mewakili sebagai wanita karier_orang menyebutnya demikian) pasti akan lebih bahagia jika mendapat suami yang di atas kita, minimal sederajatlah(tentang pendidikan, pekerjaan, kesibukan, atau penghasilan). Perjuangan untuk mendapatkan target itupun tak jarang ditempuh dengan susah payah. Tetapi apakah ukuran ini menjadi tolak ukur bagi tercapainya kebahagiaan berumahtangga? Benarkah Lena Lena selanjutnya akan mengalami hal yang sama jika menemu Eric eric yang lain?, ataukah Lena Lena di sana akan menyiasati agar tidak sekalipun bertemu dengan Eric Eric yang lain??. Bagaimana Eric dan Lena menyelesaikan malasah mereka? Temukan jawabannya di Alphawife.
Dapatkan di Gramedi terdekat, atau pesan ke penulisnya langsung
Selamat membaca dan menghikmahi